kali ini gw mau ka4 kalian semua baca sebuah cerpen....
awal dari cerpen neh adalah ketika gw n teman" sekelas gw(mungkin kelas" XI lain nya di skul gw jg) di suruh sama guru Bahasa Indo bikin cerpen utk di ceritain di depan kelas.
Dan cerpen nih harus dibuat sendiri, berhubung gw yg otak na paling malas buat mikir yg panjang, lalu mendapat ide utk ambil cerpen dari majalah" yg ada. Dan itu g lakuin dengan bermodal printer yg bisa di pake scen n sebuah laptop. Jadilah cerpen hasil copy paste ini...
perlu di tegaskan kalo cerpen ini sdh gw ganti nama tokoh na n sdh di potong"..(sayur x)
Sejak berusia empat tahun, Amanda kehilangan ibu untuk selamanya. Hidup bersama dua orang laki-laki membuat Amanda tumbuh menjadi seorrang remaja yang jauh sekali dari feminin. Ia tidak sama dengan gadis remaja lanin yang selalu sibuk memikirkan tren fashion terkini atau gaya rambut yang mengikuti zaman.
Amanda selelu memakai kaus kebesaran dan celana jeans, itu semua sudah menjadi ciri khas untuk penampilannya. Ramnutnya memang panjang tetapi amanda tidak pernah menguraikannya kecuali saat tidur atau sedang bermalas-malas di rumah. Sehari-hari Amanda selalu mengucir kuda rambutnyadengan menyisakan sedikit poni. Dan poni itulah yang menjadi satu-satunya gaya cewek yang ada pada dirinya, bergitulah pendapat Peter.
Ayah dan Peter memang tidak bisa mengajarkan cara berdandan pada Amanda. Sejak kecil, manda selalu ikut dengan Peter, kakak semata wayangnya yang berusaia 2 tahun lebih tua darinya. Mengikiti Peter yang bergabung dalam tim bola basket di kompleks rumahnya.
Bukan cuma jago basket, saat ayah mennyuruhnya untuk ikut kursus piano ia mennolak dan memilih ikut Peter dalam kursus drum. Dan kini kedua kakak beradik ini telah memiliki band masing-masing dan menjadi drumer yang hebat.
Tapi, setelah beranjak dewasa dan menginjak masa SMA stahun yang lalu, ayah dan Peter mulai sadar akan “kelainan” dalam diri Amanda.
“anak perempuan seharusnya memakai rok” bergitu kata ayah. Dan suatu hari ayah memperlihatkan foto ibu sewaktu masih kuliah. Ibu sangat cantik dan berpenampilan feminin. Usaha ayah untuk menjadikan Amanda sebagai gadis feminin tidak hanya lewat kata-kata saja. Ayah selalu membelikan baju-baju cantik yang ujung-ujungnya hanya menjadi hiasan remari Amanda saja.
*
Amanda baru saja melepas sepatu sekolahnya saat iya menemukan Lio sedang duduk di ruang keluarga rumahnya.
“Kok gak masuk ke kamar Peter saja?” tanya Amanda sambil melepas sepatu sekolahnya, lalu melangkah mendekati cowok yang merupakan sahabat baik Peter sejak SMP itu.
“nih baru saja keluar dari sana. Gue sama Peter mau keluar lagi”
“oohh...” ujar Amanda sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “kemana?” tanya gadis itu lagi.
“nemenin Peter nyari kado buat pacarnya” jawab Lio, “ikut yuk man, kan kamu cewek pasti bisa milihin kado yang pas deh”
“ngajak Amanda sama aja kayk ngajak cowok” Peter yang baru keluar dari dalam kamarnya nyahut dengan suara cemprengnya, “nanti bukanya milaih kado yang pinky-pinky ala cewek, malah dibeliin CD lagu rock atau sbola basket lagi”
Mendengar jawaban Peter, Lio tertawa sementara Amanda langsung mendekati kakaknya itu lalu menjitak pelan kepalanya. Tentu saja Peter langsung membalas jitakan Amanda dan mengacak rambut adiknya itu.
“yang ngajak gue kan Lio, bukan lo”
“ya, tapii yang ada keperluaan kan gue, bukan Lio!” Petre memperhatikan Penampilan Amanda dari atas kepala sampai ujung kaki. “lagian tampang kucel bergitu kan malun mau jalan-jalan di mal”
“kamu habis main basket lagi ya?” tanya Lio yang dari tadi hanya tertawa kecil melihat kelakuan kakak beradik itu.
Amanda mengangguk,”tapi kalah Yo. An lo harus tau kalau tim gue itu kalah cuman gara-gara beda 1 skor! Tadinya tuh pas awal-awal main, tim gue unggul. Tapi habis itu pemainya tiba-tiba jadi pada payah semua, terlalu yakin bakal menang jadinya pas uda mau selesai waktunya malah kebobolan!” cerita Amanda dengan heboh. Ia menarik nafas pendek dan mulai melanjutkan menceritakannya kembali. “gue bener-bener bete banget hari ini! Jadi kalian berdua harus menghibur gue dong!”
“dihibur kok minta?” Peter menertawakannya. “ya uda,lo mandi cepat-cepat, terus ganti baju. Malu kalau bawa anak SMA dekil kayak gini.”
“jadi lo ngebolehin gue ikut?”
“iyaaaa...” kata Peter sambil mendorong adiknya itu masuk ke dalam kamar mandi, lalu melemparkan handuk kepada Amanda. Dan tidak sampai 15 menit, Amanda sudah siap dengan kaus kebesaran dan jeans favoritnya.
*
Ada satu rahasia penting yang tidak diketahui siapapun, yang berhasil Amanda simpan untuk dirinya sendiri. Bahkan Peter ataupun ayahnyajuga tidak tahumengenai hal ini.
Amanda sukses menyimpan perasaan sukanya pada Lio sejak dua tahun yang lalu. Semua orang bisa berpikir bahwa Amanda hanya gadis tomboy yang tidak tahu apa-apa tentang jatuh cinta. Padahal, sebenarnya perasaan Amanda sama seperti gadis-gadis lain. Dia juga bisa menyukai lawan jenisnya. Hnya saja, perbedaannya, Amanda tidak menunjukan perasaan sukanya.
Bisa menjadi sahabat Lio saja sudah cukup buat Amanda. Inilah cara terbaik yang dia gunakan untuk bisa dekat dengan Lio.
“dari tadi uda muter-muter, keluar masuk toko, lapi belum ketemu apa-apa," kata Amanda yang mulai pegal mengikuti Peter yang masih sedang sibuk mencari kado untuk pacarnya
"Cewek lo suka barang apaan, sih? “Peter mengangkat bahu bertanda dia tidak tau.
“Gue kan baru jadian dua minggu, jadi belum tau apa yang dia suka,
"Lho, memangnya langsung jadian aja? Nggak pake pendekatan dulu?" "Pendekatannya cuma seminggu, Man. Peter udah nggak tahan pengen pacaran,” kali ini Lio yang menjawab. Amanda menguap lebar, ia mengantuk. Jalan-jalan di mal buat Amanda adalah hal yang paling membosankan. Kadang ia bingung kenapa remaja-remaja sekarang ini suka sekali bergaul dimal. padahal yang dilihat cuma balu-baju bermerek dengan harga selangit.
Setelah hamper dua jam mencari barang yang cocok, Peter masuk ke sebuah butik dan langsung mencari ke bagian dress, salah satu merek baju yang sering dikenakan oleh pacarnya.
“anak Mama memang cocok pakal baju apapun,” suara seorang ibu terdengar dari arah ruang pas. Amanda yang sedang iseng melihat kaos-kaos di butik tersebut tertarik untuk melihat ibu dan anak perempuan tersebut. "Boleh aku beli baju-baju ini, Ma?" tanya si gadis sambil berputar-putar dan menatap dirinya dari cermin yang sedang mengenakan dress hitam dengan morif bunga di bawannya. Gadis itu terlihat cantik dan anggun sekali.
Kali ini giliran Amanda yang menatap dirinya dari cermin. Kalau dibandingkan dengan anak perempuan tadi, jelas jauh berbeda. Amana lebih pantas dibilang sebagai laki-laki daripada sebagai seorang perempuan.
“ Amanda ngapain kamu cemberut sambil ngaca?” tanya Lio yang tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakang Amanda dan mengagetkan gadis itu.
“ng. nggak kenapa-kenapa, kok” Amanda jadi salah tingkah.
"Gue udah ketemu dress buat pacar gue, Man. Sekarang gue mau traktir kalian berdua karena udah nemenin gue nyari kado,"
*
lbu, kalau saja ibu masih ada di sini...
Malam itu Alanda sendrian di dalam kamar sambil menatap foto ibu kandungnya. lbu memang sudah meninggalkanya sejak ia masih kecil, bisa dibilang sebenarnya
Amanda tidak begitu mengenal lbunya, tapi entah kenapa ia selalu merasa ibu berada dekat sekali dengannya. Amanda selalu iri jika melihat anak perempuan yang sebaya dengannya bersama dengan ibu mereka. Satu hal yang tidak pernah ia lupakan adalah saat pertama kali Amanda mendapatkan menstruasi pertamanya. Waktu itu usianya sudah 13 tahun, dan satu-satunya gadis yang belum mendapat menstruasi di antara teman-teman sekolahnya. Melihat anak perempuannya sudah menunjukkan tanda
kedewasaan, ayah sangat bingung. Beliau bahkan menelepon Oma yang berada di Manado dan membawa Amanda ke rumah Tante Reni adik kandung ayah, malam hari saat ia mendapat menstruasi pertamanya supaya Tante Heni bias mengajarkan pada Amanda cara menjaga kebersihaan area sensitif di tubuhnya.
"Amanda" dengan tiba-tiba Peter masuk ke dalam kamar Amanda, membuat gadis itu terkejut
”lkut gue sebentar. ya?”
Tanpa menunggu persetujuan dari Amanda, Peter langsung menarik tangan gadis itu sampai tiba di teras rumahnya . Amanda cukup terkejut saat metihat seorang gadis cantik berdiri di.depan pintu rumahnya. Gadis dengan rambut panjang yang terlihat sangat terawat, memakai dress pemberian Peter dan kulit yang cerah terawat.
“Hai, kamu pasti Amanda, adiknya Peter?” gadis cantik itu menyapa Amanda. Suaranya yang lembut seolah menunjukkan hatinya yang begitu tenang dan baik. “Aku Karina”
“halo kak,”
Malam itu adalah awal pertemuan Amanda dengan Karina, tepat di hari ulangtahun Karina, dan hari itu juga Kirina mengajak Amanda untuk ikut merayakan hari ulang tahunya bersama dengan Peter di sebuah kafe. Dan setelah malam itu Amanda mempunyai seorang saudara perempuan baru dalam hidupnya, seseorang yang juga bisa menggantikan peran seorang ibu bagi Alanda.
*
Amanda cukup terkejut saat melihat Karina dan Peter sudah menunggunya di depan sekolah begitu ia tiba di halaman parkir sekolah
“Kalian berdua ngapain di sini?" tanya Amanda heran.
“Ayo cepetan masuk, kita mau ngalak lo jalan-jalan” ujar Peter sambil membuka pintu mobil bagian belakang.
"Tapi, gue ada latihan band jam 4 sore nanti," kata Amanda, namun tetap saja ia tidak bisa menolak karena Peter langsung mendorongnya masuk ke dalam mobil. Tidak sampai setengah jam, mobil Peter sudah terparkir manis di depan sebuah salon kecantikan.
“Turun yuk, Man," ajak Karina sambil tersenyum.
Amanda mengerutkan keningnya, “Tapi buat apa, Kak?”
Tanpa bicara lebih banyak lagi, Karina sudah menggandeng tangan Amanda dan mengajaknya masuk ke dalam salon tersebut.
Tadinya Amanda pikir ia hanya perlu menunggu Karina di salon, tapi ternyata seorang hair dresser menyuruhnya duduk di depan kaca lalu mulai merapihkan potongan rambut Amanda.
Ternyata Karina dan Peter tidak berhenti hanya sekadar memotong rambut saja. Amanda diajak ke butik langganan Karina, kemudian Karina memilihkan dress cantik
dengan warna putih. Berkali-kali Amanda memberontak, ia menolak untuk di dandani. Sampai saat Karina mengajak gadis itu untuk bercermin, Amanda benar-benar terkejut melihat perubahan dalam penampilannya.
“Kamu cantik sekali, Man,” Karina memuji sambil merapihkan rambut-rambut halus adik kekasihnya itu. Amanda masih mematung di depan cermin. Seorang gadis tomboy, yang selalu berpenampilan kucel sekarang ini berubah menjadi gadis feminin yang sangat cantik. Kalau ayah melihat ini semua, beliau pasti akan sangat senang.
“kak Karin” Amanda berbalik badan. Wajahnya sangat serius saat ia bertanya, “Sebenarnya buat apa sih kakak melakukan ini semua?”
Karina tidak langsung menjawab sampai kemudian seorang cowok berambut acak-acakan dengan wajah ganteng yang familiar buat Amanda masuk ke dalam ruangan tempat Amanda dan Karina berada. Amanda benar-benar terkejut, begitu juga dengan cowok tersebut.
*
Amanda tidak menyangka kalau kejadian yang sedang dialaminya saat ini adalah kenyataan. Makan malam berdua, hanya ada dirinya dan Lio.
“Jadi kalian bertiga tuh kerjasama buat bikin gue kayak
gini, ya?” tanya Amanda saat ia sedang duduk berhadapan dengan Lio sambil menunggu pesanan
Lio tersenyum,
“Sebenernya gue mlnta tolong sama mereka berdua buat nyiapin makan malam ini Man.”
Amanda terdiam, jauh dalam hatinya ia menyimpan perasaan gugup sekaligs senang bisa menghabiskan waktu yang spesial bersama dengan Lio, orang yang ia sukai.
Malam ini, Lio juga terlihat tambah ganteng. la memakai kemeja warna putih dan celana jeans hitam. Amanda baru sadar kalau Karina sengaja memilihkan dress putih untuknya supaya bisa serasi dengan kemeja Lio.
“Mungkin lo pikir cara gue ini norak, ya? tidak sesuai sama cewek tomboy kayak lo. Jujur Man, gue takut banget lo bakal marah karena tidak suka sama semua ini," tiba-tiba saja Lio menggenggam erat tangan Amanda.
“Tapi gue nggak tau gimana cara yang bagus buat.. hmm... buat...” Lio menarik napas panjang sebelum akhirnya ia melanjutkan kembali kata-katanya, “Buat nyatain perasaan suka sama lo.”
“Lo suka sama gue?” diluar kesadarannya Amanda menjawab pernyataan Lio dengan suara yang lumayan keras. Walaupun suasananya sudah seromantis ini, Amanda masih nggak menyangka kalau Lio akan menyatakan perasaan suka padanya.
Lio tertawa pelan lalu mengangguk, “Kita pacaran, yuk. Mau, kan?” lanjut cowok itu.
“Mau kok mau,” jawab Amanda sambil mengangguk dengan penuh semangat.
Lio mengacak poni Amanda sambil tersenyum senang mengingat mulai malam ini, Amanda resmi menjadi pacarnya.
“Cieeee gue nggak nyangka adik gue yang super Tomboy ini bisa naksir sama cowok juga ternyata,” tiba-tiba saja Peter dan Karina datang dan bergabung dengan Lio
dan Amanda.
"Kok kalian bisa ada di sini sih?" tanya Amanda
"Buat minta pajak jadian dong hehe," Peter tertawa licik.
"Amanda, selamat ya," Karina tersenyum manis.
Amanda sangat mensyukuri malam ini. Malam yang dibuat khusus untuknya. Dan malam ini juga menjadi malam dimana Amanda mendapatkan pacar pertamanya. la sama sekali tidak menyangka kalau temyata Lio juga menyimpan perasaan yang sama dengannya. Dan sekarang
keinginannya itu sudah terwujud.
Tapi, Alanda masih punya satu keinginan. la ingin segera pulang, bertemu dengan ayah dan membuat ayah terkejut dengan penampilan putri semata wayangnya malam ini.
***
pasti pada bosan baca na.... haha
gw juga bosan mesti liat cerpen neh lagi....haha
Kamis, 17 Juni 2010
Copy Paste
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar